Follow Us @soratemplates

03/05/17

Satu Gesture yang Mengisyaratkan Banyak Makna

 Setelah pulang dari Jepang banyak teman, saudara maupun tetangga yang menagih cerita  tentang pengalaman selama tinggal di Jepang. Biasanya setelah bercerita panjang lebar (kalau lagi mood :p), diakhir obrolan mereka melempar guyonan dengan melontarkan kalimat "arigatou gozaimasu" dengan aksen kejepang - jepangan, atau membungkuk ala ala orang Jepang. Yup! mungkin emang gitu kali ya ciri khas orang Jepang di mata orang Indonesia. 

Memang untuk orang Jepang sendiri, ada semacam prinsip yang mengatakan kalau no bow no thankyou, jadi kalau hanya ngomong "terima kasih" tanpa membungkuk itu nggak afdol rasanya.  Ada nih cerita dimana salah satu profesor mengundang mahasiswa - mahasiswanya datang ke rumahnya saat Christmas party. Otomatis masing - masing mahasiswanya datang bawa kado dong. Nah kebetulan mereka datengnya barengan (udah janjian ketemuan dulu di luar). Nah ketika masuk ke rumah si professor, istrinya yang bertugas menerima kado  membungkuk sampek 14 kali karena ia mendapat 7 kado. Bayangin 14 kali berturut- turut karena mereka ngasihnya bareng - bareng bergantian. 🙀

Bowing (english) atau Ojigi (日本語) itu punya patokannya sendiri - sendiri berdasarkan sudut kemiringannya. Jadi kalau sudut kemiringannya beda, maknanya juga beda.

macam - macam ojigi
Ojigi berdasarkan sudut kemiringannya, dari kiri ke kanan : Eshaku, Keirei, Saikeirei


Singkatnya begini : 
  • 会釈 (Eshaku) : dipraktekan saat tidak sengaja ketemu rekan kerja di jalan, kantor, lobi. Jenis Ojigi yang ringan. 
  •  敬礼 (Keirei) : adalah postur Ojigi yang dipakai pada umumnya, yaitu saat ada cara formal seperti wawancara, lingkungan komunitas, public service, dsb. 
  • 最敬礼(Saikeirei) : dipraktekan saat sangat menghargai kedermawanan orang, atau saat melakukan kesalahan yang merugikan orang (untuk menunjukkan permohonan maaf sangat dalam)
Intinya semakin menundukkan kepala ke bawah, semakin menunjukkan dalamnya perasaan yang ingin disampaikan. 

Bukan cuma itu aja... 

sebenernya menganggukkan kepala juga termasuk dalam Ojigi => kalau di Jawa mungkin sama kayak gesture menganggukkan kepala saat menyapa orang di jalan. 
Nah, tentang menganggukkan kepala ini, ada satu lagi cerita tentang Ojigi yang saya dapatkan dari kelas crossculture saat perkuliahan di Jepang. 

Ada seorang mahasiswa asing yang sedang duduk di mobil bersama host fathernya. Di persimpangan jalan host fathernya hendak menyebrang jalan, sementara itu, dari arah lain ada mobil lain yang juga ingin melintasi jalan (intinya salah satu mobil harus ada yang ngalah biar bisa melewati jalan). Akhirnya mobil host fathernya berhenti sebentar, begitu pula mobil satunya. Kemudian si host fathernya menganggukkan kepala ke arah mobil lawan, lalu mobil lawan balas menganggukkan kepala dan berjalan perlahan. Ketika mobil lawan melewati mobil yang ditumpangi mahasiswa dan host fathernya, pengemudi dari mobil lawan kembali menganggukkan kepala, kemudian host fatherpun juga kembali menganggukkan kepala ke arah mobil lawan untuk yang kedua kali.

     Si mahasiswa bertanya kepada host fathernya, "what's hapenning?, what those bows meant?".

Lalu si Ayahnya menjelaskan bahwa,  anggukan pertama yang dilakukan olehnya itu berarti "Silahkan maju duluan", lalu dibalas oleh anggukan dari mobil lawan yang bermakna "Terima kasih". Lalu ketika mobil lawan melewati mobil mereka, pengemudinya kembali menganggukkan kepala untuk yang kedua kali, sebagai tanda penekanan untuk makna "Terima kasih", kemudian ia membalasnya dengan anggukkan untuk menyampaikan "Your welcome". 

Hasil gambar untuk attitude

Sebenernya kalau dipikir - pikir, attitude dan manner di Jepang hampir - hampir mirip dengan Indonesia, mungkin karena masih sama - sama negara Asia, jadi tidak jauh berbeda. Tapi yang membedakan Jepang dengan negara - negara Asia lainnya tentang attidtude dan manner adalah tingkat keseriusan mereka dalam mengaplikasikannya. Seseorang yang hidup dalam masyarakat, atau yang biasa disebut dengan 社会人 shakaijin , akan dianggap gagal menjadi bagian dari masyarakat apabila ia gagal dalam bersikap.  

Mungkin itu salah satu sebabnya banyak mahasiswa atau pemagang Indonesia yang pernah mencicipi asam manisnya Jepang, kalau ditanya tentang apakah mereka mau benar - benar kerja menetap di Jepang? pasti kebanyakan akan menjawab : nO 😅. Tapi kalau hanya untuk satu, dua, tiga, empat tahun....... saya juga mau lagi 🙋🙋 😜 .
Mau dimanapun dan bagaimanapun enaknya negeri orang, pasti hasil voting akhir akan tetap sama, Home sweet home.




& diktat mata kuliah crossculture




Tidak ada komentar:

Posting Komentar